Makassar, DUTAKARSA.COM — Suasana di Kantor Kelurahan Buloa berlangsung cukup hangat namun diwarnai kekecewaan, saat diadakan kegiatan musyawarah penetapan calon Ketua RW 01. Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Lurah Buloa ini dihadiri oleh para Ketua RT, Babinkambtimmas serta perangkat kelurahan dengan tujuan utama menyepakati nama-nama kedua calon pemimpin tingkat RW yang akan dipilih secara musyawarah dan mufakat.
Namun, apa yang diharapkan berjalan lancar dan demokrasi justru berakhir mengecewakan. Di tengah proses pembahasan dan penyampaian aspirasi dari para undangan, muncul keputusan yang dianggap mengejutkan dan tidak sesuai jalur musyawarah. Pemilihan calon Ketua RW ternyata dilakukan secara sepihak, tanpa melibatkan pembahasan bersama, tanpa mendengarkan usulan calon RW, serta langsung menunjuk nama tertentu tanpa adanya kesepakatan bersama.
Sejumlah peserta musyawarah yang hadir mengaku kecewa dan merasa keberatan. karena kedua calon tersebut diduga ada yang sudah menjabat sebagai ketua PJ RW dan kini mencalonkan lagi sebagai peserta Calon Ketua RW. Mereka menilai kegiatan yang digelar hanya sekadar seremonial belaka, padahal tujuan awal diundangnya warga adalah agar aspirasi tersampaikan dan pemilihan berjalan adil.
“Kami diundang untuk bermusyawarah, tapi kenyataannya keputusan sudah ada di tangan. Nama-nama yang ditetapkan sudah ditentukan duluan, kami hanya diberitahu saja. Ini namanya pemilihan sepihak, bukan musyawarah. Aspirasi kami tidak didengar sama sekali,” ungkap salah satu perwakilan warga yang hadir, yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi hal tersebut, Lurah Buloa selaku pimpinan kegiatan belum memberikan penjelasan rinci terkait alasan pemilihan yang tidak mengacu pada hasil pembahasan bersama. Di sisi lain, keputusan sepihak ini memicu kekhawatiran di kalangan warga, dikhawatirkan pemimpin RW yang terpilih nantinya tidak memiliki dukungan penuh dari masyarakat dan berpotensi mengganggu keharmonisan hubungan antarwarga maupun kinerja pelayanan ke depan.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah warga berharap Lurah Buloa dapat meninjau kembali keputusan tersebut dan mengembalikan proses pemilihan sesuai prinsip musyawarah untuk mufakat, agar tercipta pemimpin RW yang benar-benar diterima dan dipercaya oleh seluruh masyarakat.
























