Maros, DUTAKARSA.COM — Di sebuah rumah sederhana di dusun kappang, desa labuaja Cenrana, Kabupaten Maros, Pak Buddin setiap pagi menatap langit kelabu sambil menyiapkan sarapan dengan satu kaki yang terkapar. Akibat Kecelakaan lalu meninggalkannya dengan kaki kanan yang tak dapat dipakai, tetapi ia menolak menyerah. Ia masih berharap ada yang mengulurkan tangan.
Berbeda dengan sebagian warga lainnya, Pak Buddin tidak memiliki keluarga yang dapat membantu. Bahkan pak Buddin sempat mendapatkan kartu dari pemerintah, akan tetapi sudah tidak aktif lagi. Ia juga sempat dapat bantuan kaki palsu dan sudah tidak bisa lagi digunakan.
“iye pak saya tidak tau ini kartu sudah lama saya simpan semasa istri ku masih hidup dan sampai saat ini kartu yang kami dapat dari pemerintah sampai saat ini sudah tidak aktip lagi, kalau di pikir masih banyak yang layak dan mampu dan bisa berkerja bisa dapat, kalau semacam saya sudah tidak bisa lagi bekerja,”ucap Pak Buddin.
Ia juga mengandalkan bantuan pasokan beras subsidi yang datang setiap bulan, namun tidak cukup untuk menutupi kebutuhan medis, perawatan kaki, dan biaya hidup dasar. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: Apakah pemerintah Kabupaten Maros sudah menyediakan mekanisme yang memadai untuk warga difabel miskin?
“Kita tidak boleh membiarkan warga yang berjuang melawan keterbatasan fisik terpuruk sendirian,” kata Abdul Malik Pengurus LSM Kipfa RI Maros
Pak Buddin mengingatkan, “Kalau pemerintah tidak peduli, kami tetap harus bertahan. Tapi saya rasa ada harapan kalau ada kebijakan yang menghubungkan bantuan kesehatan dengan mobilitas.”ucapnya.
Kisah Pak Buddin bukan sekadar cerita pribadi, ia adalah cerminan kenyataan ribuan warga difabel miskin di Maros yang menunggu kepedulian nyata. Data dan kutipan di atas menyatakan bahwa meskipun ada upaya awal, cengkeraman dukungan masih lebar . Dengan diadopsinya kebijakan terpadu, pemerintah Maros tidak hanya membantu Pak Buddin kembali berdiri, tetapi juga menegakkan prinsip keadilan sosial bagi seluruh warga yang berada di pinggiran.
“Jika pemerintah mendengarkan, langkah kecil hari ini bisa menjadi langkah besar bagi masa depan yang lebih inklusif,” Tutur Abdul Malik.
Semoga Pemerintah setempat dapat memberikan bantuan kepada orang cacat pisik.
Sampai berita ini diterbitkan belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait.
























